Bisnis yang sudah baik sistemnya serta sudah terbukti menguntungkan maka siap untuk difranchisekan. Lalu bagaimana cara atau strategi untuk memasarkan bisnis franchise tersebut?

Sebelum membahas strategi pemasaran franchise, Ingat! Jangan asal menjual franchise ke sembarang orang.

Jika franchise tersebut dibeli oleh mitra atau franchisee (pembeli izin waralaba) yang tidak “serius” maka bisnis yang dibeli tersebut akan jelek/tidak terurus.  Hal ini akan membuat brand bisnis franchise kita buruk akibatnya orang tidak mau membeli bisnis franchise kita lagi. Bisnis franchise tentunya dibuat untuk bisa bertahan jangka panjang. Oleh karena itu Juragan harus memasarkan/menjual bisnis franchise ini kepada orang yang tepat.

Berikut adalah hal-hal yang harus diperhatikan sebelum dan setelah menjual bisnis franchise kepada mitra:

  1. Tujuan utama dalam pembuatan bisnis franchise adalah membuat mitra kita sukses.  Jika mitra kita sukses maka otomatis kita sukses.
  2. Kita harus membuat kemitraan agar tahan lama (jangka panjang). Jangan sampai Mitra lepas tangan (mundur) dan membuat usaha sendiri.
  3. Membuat dan mengembangkan sistem agar usaha kemitraan terus berkembang.

Pada saat memasarkan franchise harus memikirkan 2 target yaitu kuantitatif dan kualitatif. Target kuantitatif yaitu menargetkan untuk membuka outlet franchise dengan jumlah dan kurun waktu tertentu. Misalnya membuka 10 outlet dalam setahun. Target kualitatif yaitu mendapatkan mitra yang berkarakter baik atau tepat untuk menjalan bisnis franchise kita.

Berikut adalah strategi atau langkah-langkah jitu untuk memasarkan bisnis franchise:

Promosi

Promosi bisnis franchise bisa dilakukan dengan cara-cara berikut ini:

  • Menggunakan media cetak seperti: brosur, prospektus, iklan majalah bisnis, koran bisnis. Mungkin sedikit atau bahkan tidak ada yang akan membeli franchise dari cara ini. Namun tujuannya utamanya adalah awareness agar orang tahu jika bisnis franchise kita eksis.
  • Ekshibisi seperti pameran, peragaan.
  • Media Digital bisa berupa video atau iklan Google, iklan Facebook
  • Bisnis seminar.
  • Strategi ini merupakan strategi paling pamungkas. Undang audience untuk menyimak presentasi dalam waktu tertentu. Strategi ini memberikan kita keleluasaan dalam menyampaikan, mempresentasikan bisnis franchise yang ingin kita jual. Biasanya metode  lebih “menancap” di ingatan calon franchise. Kunci utama strategi ini adalah presentasi yang menarik.

Isi Form Aplikasi

Setelah itu kumpulkan orang-orang yang berminat untuk membeli bisnis franchise kita. Lalu minta orang yang berminat tersebut untuk mengisi form aplikasi. Tujuannya untuk memantau orang yang minat.

Memastikan Keseriusan Calon Franchise

Pada tahap ini Juragan bisa memfilter (menyaring) siapa saja yang bisa dan cocok untuk menjalankan bisnis franchise kita. ada questioner. Buatlah surat pernyataan yang berfungsi untuk mengukur keseriusan. Pada umumnya yang datang ke seminar bisnis kita bukan hanya orang yang ingin membeli franchise saja. Biasanya kompetitor juga datang untuk “menginvestigasi” bagaimana bisnis kita bisa berjalan.

Melakukan Survey Lokasi

Survei lokasi dimana calon mitra akan menjalankan bisnis franchise kita. Apakah strategis sesuai dengan standar bisnis franchise Juragan?.

Memberikan Informasi Yang Rinci dan Lebih Menjual

Tunjukan prospektus bisnis franchise Juragan.

Melakukan Interview dan Investigasi

Siapa dia? apakah cocok untuk menjalankan bisnis franchise kita. Pokoknya kita harus tahu betul tentang calon pembeli franchise kita.

Mungkin Juragan berfikir kenapa dibuat ribet? kenapa gak semua yang bisa bayar bisa membeli franchise kita?

Alasannya jika franchise yang akan menjual produk kita gak serius, gak antusias nanti bakal kita bakal kerepotan untuk ngurusin banyak franchise yang “tidak bagus” ini.

Berikut adalah hal-hal yang diperhatikan ketika memilih calon franchise yang baik untuk menjalan bisnis franchise kita:

  • Karakter yang cocok (sesuai kita) bisa melaksanakan SOP yang telah dibuat.
  • Bisa mengoperasikan/mengelola bisnis seperti memantau, mengelola, memimpin.
  • Mempunyai dana yang cukup. Maksudnya masih memiliki uang “lebih” setelah membeli franchise kita. Tujuannya untuk menghindari hal-hal diluar kendali.

Penandatanganan MOU

Pembuatan Business Plan

Pembuatan business plan dilakukan berbarengan dengan calon franchise. Tujuannya agar paham prosesnya.

Review Agreement

Bicarakan isi perjanjian agar dipahami.

Menandatangani Perjanjian Franchise

[Catatan Tambahan]

Tipe-Tipe Calon Franchisee yang Juragan perlu ketahui

  1. Orang yang belum berpengalaman dalam bisnis yang ditawarkan, tetapi ingin mempunyai usaha untuk dioperasikan sendiri. Contohnya orang pekerja kantoran yang ingin menjalankan bisnis sendiri. Tipe ini tuntutannya saat membeli franchise adalah ingin dibantuin di awal-awal. Kita harus memberikan program support, pelatihan untuk keberjalanan bisnis franchise ini.
  2. Orang yang sudah mempunyai pengalaman di bisnis yang ditawarkan dan ingin mengoperasikan sendiri. Misal ex-manager restoran yang ingin membeli franchise. Biasanya tipe ini akan mempertanyakan masalah teknis seperti peralatan, manajemen dll. Untuk menghadapi tipe ini kita harus “master” pada bisnis franchise yang kita jalankan.
  3. Orang yang HANYA ingin berinvestasi, tetapi tidak ingin untuk mengoperasikannya sendiri. Tidak disarankan untuk menjual pada tipe ini. Pada umumnya mereka rewel karena patokan nya hanya “cuan” saja.
  4. Orang yang ingin buka usaha untuk kepentingan orang lain (misal : keluarganya). Saat di interview dan diselidiki mereka mampu untuk menjalankan franchise kita. Namun ternyata tidak untuk dioperasikan sendiri. Mereka membeli bisnis franchise untuk dijalankan orang lain (seperti : keluarga, teman dll). Permasalahanya orang lain ini belum tentu bisa menjalankan bisnis franchise.

Tanda-tanda Franchisee / mitra yang Ideal:

  1. Mudah bekerjasama (cooperative) ​
  2. Memiliki lokasi yang strategis sesuai pengalaman Franchisor​
  3. Memiliki jiwa wirausaha
  4. Memiliki modal yang cukup untuk usaha maupun kebutuhan hidupnya saat itu
  5. Tidak memiliki permasalahan hukum dan utang-piutang
  6. Mendapatkan dukungan dari para keluarga
Share this post