Materi tiga lingkaran ini, Mas J dapatkan langsung dari gurunya Om Bob Sadino. Hanya saja diimprove penjelasannya menggunakan contoh-contoh yang lebih mudah untuk dipahami.

Lingkaran pertama adalah lingkaran logika. Lingkaran yang dibagi menjadi 2 ada hitam, ada putih dan pembatas setengahnya.

Hitam-putih ini merepresentasikan baik-buruk, kaya-miskin, untung-rugi. Misalkan Anda merasa tertipu oleh Budi. Seolah-olah jika Anda “merasa” tertipu, sudah pasti Budi telah menipu Anda (maaf bagi yang punya nama budi ini hanya contoh. Bisa jadi sebaliknya. Atau bisa jadi mungkin kedua-duanya merasa tertipu.

Pertanyaannya adalah apakah kita pernah mengklarifikasi, “Kenapa dia menipu kita?”.

Jika kita melakukan klarifikasi maka kita akan masuk ke lingkaran yang kedua. Apa itu lingkaran kedua?. Lingkarang kedua adalah lingkaran yang ada garis pembatas tapi warnanya sama-sama putih. Artinya apa baik untuk Anda belum tentu baik untuk orang lain. Baik menurut siapa? Jahat juga menurut siapa? Untung menurut siapa? Rugi juga dari sudut pandang yang mana?

Jika kalau Anda tertipu, kata siapa? Andalah yang bilang ditipu dan Budi adalah penipu. Apakah kenyataannya pasti seperti itu?

Contoh lain, kita melihat orang lain untung tapi bisa jadi faktanya dia rugi. Atau sebaliknya saat kita anggap orang lain rugi bisa jadi faktanya dia untung.

Bagaimana cara mengetahui fakta kebenaran dari kedua sisi ini? Jawabannya dengan mengklarifikasi.

Bisa jadi sesuatu hitam dan putih. Bisa jadi keduanya hitam-hitam atau putih-putih. Contohnya pada saat Anda menanyakan ke Budi, “Kenapa kamu menipu aku?”. Mungkin bisa jadi jawaban Budi bisa mengagetkan Anda.

Budi menjawab, “Kamu kali yang nipu aku”.
Atau “Aku gak nipu kamu, aku pinjam duitmu cuma belum tak balikin”.
Bisa jadi jawaban Budi, “Aku gak  nipu kamu kok. Kamu yang lebih dulu berbuat nggak adil sama aku”.

Ternyata pada saat kita klarifikasi bisa jadi mungkin putih-putih. Putih menurut kita dan putih menurut dia. Mungkin bisa jadi kita melihat orang lain untung. Namun faktanya tidak. Saat ditanyakan dia menjawab, “Iya aku rugi, aku cuma tidak mau menceritakan tentang masalah kerugian ku kepada orang buat apa?”.

Jadi pada saat kita mencari kebenaran dari kedua sudut pandang, kita masuk ke dalam lingkaran yang kedua. Mungkin dengan klarifikasi, yang selama ini kita sebut sebagai lawan mungkin belum tentu lawan.

Lingkaran yang pertama disebut lingkaran logika. Lingkarang kedua disebut juga sebagai lingkaran bijak. Bagaimana dengan lingkarang ke tiga?

Berikut cerita untuk memahami lingkaran ketiga. Pada suatu sore di sudut pabrik, seorang pemuda memegang sebilah pisau ditanggannya. Pemuda itu berdiri dengan tangan bergetar serta disertai dengan isak tangis. Dia sedang menunggu seseorang keluar dari pabrik tersebut.

Beberapa saat kemudian ada seorang tengah baya menggunakan baju batik keluar dari pabrik menuju mobil yang diparkir. Dia adalah bos pemilik pabrik tersebut. Saat itu juga pemuda ini berlari membawa pisau kemudian menusuk si pemilik pabrik. Dia menusuknya bertubi-tubi. Lalu pemilik pabrik tersebut langsung meninggal ditempat.

Pemuda ini tidak berlari meninggalkan mayat pemilik pabrik. Ia hanya tetap terdiam bisu. Bahkan tertunduk sambil menangis. Tangannya bergetar berlumur darah hingga pisaunya jatuh.

Kemudian tertangkap dan dipenjara.

Mungkin diantara Anda akan menjawab seperti berikut:

  1. Pemuda yang salah karena telah membunuh orang.
  2. Si pemilik pabrik yang salah, dia pasti punya kesalahan besar sehingga dia pantas dibunuh.

Bagaimana cara menemukan fakta sebenarnya?

Kita bisa melakukan investigasi. Kenapa atau apa alasan pemuda ini sampai tega menusuk pemilik pabrik?

Pemuda ini menjelaskan alasannya. Si anak muda ini dulu kerja di pabrik tersebut. Pemuda ini memiliki bayi. Namun anaknya punya kelainan kesehatan. Anak ini harus dioperasi jika tidak akan berbahaya bagi nyawanya. Pada saat itu belum zamannya BPJS. Jadi biaya mahal untuk perawatan si anak.

Pemuda ini dia sudah mengeluarkan semua uang tabungannya. Dia bahkan menjual semua perabot dan motornya. Dia sudah mengutang kesana kemari.  Terakhir juga sudah berhutang ke perusahaan. Kali ini dia mau berhutang lagi ke perusahaan untuk operasi anaknya. Ini adalah harapan satu-satunya baginya.

Namun perusahaan tidak memberikan izin untuk peminjaman uang. Hal ini karena sudah menjadi kebijakan dari manajemen. Lalu kepada siapa lagi dia harus bertumpu? dia sudah yatim piatu. Singkat cerita anaknya meninggal dan akhirnya pemuda tersebut ini menyalahkan pemilik pabrik yang memberikan kebijakan tersebut.  Karena telah membuat anaknya meninggal makanya dia menusuk Bos pemilik pabrik itu.

Setelah mendengar cerita tersebut menurut Anda siapa yang salah?. Mungkin Anda akan menjawab yang salah adalah pemilik pabrik.

Bagaimana dengan fakta jawaban dari sisi pemilik pabrik?
“Seandainya” setelah meninggal pemilik pabrik bisa diwawancara.  Anggap saja seperti itu.

Kita tanyakan ke pemilik pabrik tersebut. “Kenapa sih kamu kok tega banget tidak memberikan pinjaman lagi? Kasihan loh anaknya sampai meninggal gitu”.

“Andaikan” pemilik pabrik bisa menjawab di kematiannya. Dia menjawab seperti ini “Hah apa yang kamu maksud? Aku gak pernah dengar”.  Ternyata si Bos nggak ngerti kasusnya.

Lalu siapa yang salah?

Ternyata pihak management HRDlah yang menjawab hal tersebut dan mengatasnamakan kebijakan perusahaan. Dan hal tersebut memang benar adanya. Namun sebenarnya dibalik peraturan ada kebijaksanaan. Tapi berita ini tidak sampai ke telinga big bosnya.

Pertanyaannya, “Apakah si Bos ini salah”?
Mungkin Anda menjawab dia tidak salah karena dia tidak tahu apa-apa.

Lalu yang salah siapa?
Mungkin Anda menjawab yang salah adalah manajemen HRD karena “tidak peka”.
Sebenarnya jawaban Anda tersebut percuma. Percuma menyalahkan ini itu. Semuanya sudah terjadi. Nasi sudah menjadi bubur. Bos pemilik pabrik sudah meninggal.

Lalu apakah kejadian ini termasuk kejadian baik atau tidak?
Kembali lagi, baik buat siapa? Bagaimana cara kita memandang.

Misalkan untuk keluarga korban. Korban tidak salah karena benar-benar tidak mengerti. Korban meninggalkan istri dan 3 anak. Pasca kejadian itu. Anak tertua yang awalnya pengguna narkoba berat lalu insaf. Dia merasa harus segera berubah karena menjadi pemimpin perusahaan.

Istrinya yang awalnya foya-foya menjadi hidup sederhana serta rajin ibadah. Apakah kejadian ini tidak baik? Tentu baik. Bisa jadi pemilik pabrik itu meninggal dengan khusnul khotimah. Serta mungkin si Bos ini berterima kasih kepada anak muda tersebut karena sudah “menyelamatkan” keluarganya.

jika skenarionya seperti itu baik. Namun, jika skenarionya adalah sebaliknya. Istri yang awalnya soleh menjadi tidak beribadah karena gila ditinggal suami tercintanya. Ketiga anak yang awalnya soleh menjadi stress dan menjadi pecandu narkoba.

Apakah kejadian ini tidak menguntungkan?
Tergantung dari siapa yang memandang.

Misalkan setelah kejadian pabrik itu tutup karena bangkrut. Anda yang awalnya kompetitor menjadi untung kelimpahan rejeki. Bisa jadi karyawan bagus dari pabrik tersebut itu pindah ke pabrik Anda. Anda mensejahterakan karyawan tersebut Lalu Anda menjadi kaya raya. (Jangan sampai bahagia dengan hal ini ya).

Siapa yang untung? Siapa yang rugi?.
Bagaimana memandang masalah tersebut secara paripurna?

Ingat ada satu runutan efek-efek yang kadang sering tidak kita mengerti. Itulah rahasia Allah,  lingkaran ketiga mengajak kita untuk memahami apa yang disebut namanya Iman.

Lingkaran yang ketiga ini tidak ada garisnya. Putih semua. Apapun yang terjadi pada diri kita adalah kebaikan.

Apa manfaat kita mempelajari ketiga lingkaran ini?
Sebetulnya tiga lingkaran ini seperti suatu proses keimanan

Lingkaran pertama kita memulai dari logika. Lingkarang kedua kita sudah mulai belajar untuk lebih bijak. Lingkaran ketiga adalah lingkaran Iman atau Om Bob sering menyebutnya dengan total surrender. Pasrah atas kejadian-kejadian yang menimpa kita.

Memahami lingkaran ketiga ini penting. Tujuannya agar membuat kita tenang sebelum melangkah. Sebelum kita berikhtiar kita seharusnya lebih dulu bertawakal.

Dari hal tersebut kita memasrahkan diri kita sebelum berikhtiar. “Ya allah aku pasrahkan diriku padamu. Sebelum aku melangkah. Aku meyakini bahwa segala kejadian dibalik itu baik untukku. Baik sesuai dengan skenario atau tidak sesuai skenario. Baik kita mendapat hambatan dan kemudahan.”

Sering kali harapan itu tidak sesuai dengan apa yang kita impikan. Keimanan lah yang membuat kita memaknai sesuatu dengan positif.

Mungkin saat ini kita sedang dalam kondisi “tertipu”. Anggaplah Anda benar-benar tertipu. Coba pikirkan kejadian dibalik penipuan penipuan itu.

Mungkin ini saatnya kita memasrahkan diri kepada Allah. Mungkin ini saatnya untuk kita mengatakan bahwa “rezeki itu titipan. Kalau diambil ya sudah. Bukan hak kita”.

Dulu saat kita miskin kita bilang rezeki adalah titipan.
Saat kaya kita bilang ini adalah hasil kerja kerasku.
Itu adalah ketakaburan.

Iman itu kan kadang naik kadang turun. Orang sering menggunakan lingkaran yang pertama. Alias menggunakan logika saja. Bahkan seringkali menggunakan sebelum lingkaran pertama yaitu lingkaran yang ke-0. Lingkaran ke-0 adalah lingkaran rasa. Hitam-putih random yang acak, tidak jelas.

Apa itu? kalau orang sudah punya suatu perasaan kebencian,  Kebaikan pun tidak akan terlihat. Apapun yang dilakukan oleh orang itu, seolah semuanya adalah keburukan. Padahal bisa jadi itu kebaikan. Itulah lingkaran rasa yang harus kita jaga baik.

Mudah-mudahan materi dari Om Bob ini bermanfaat bagi Anda. Terima kasih. Assalamualaikum er. wb.

Share this post