Setelah memahami:

  1. Makna Sukses
  2. Angka Cukup
  3. Konsep Rejeki

Kita lanjutkan, bagaimana idealnya suatu proses bisnis dijalani. Jika pemahaman akan makna sukses sudah salah, maka prosesnya pun kemungkinan akan sesat.

Jika makna sukses adalah materi; mobil, rumah mewah, harta berlimpah, popularitas, maka ‘angka cukup’ tak akan pernah tercapai. Anggapan rejeki pun adalah hasil dari ikhtiar. Keserakahan akan menjadi fondasi bisnisnya. Jangan harap ada keberkahan di prosesnya.

Apa itu Keberkahan di Proses?

Saat tiap jengkal langkah bisnis kita menjadi rahmat bagi sekitar, baik dalam kondisi untung (materi) ataupun rugi. Coba ulangi baca 3 artikel sebelumnya.

Percakapan antara seorang mentor dan mentee-nya.

TEE  : Mas, saya dihadapkan oleh suatu pilihan, antara memilih menggunakan tenaga manusia atau mesin..? TOR : Apakah ada alasan mendesak sehingga harus pakai mesin? TEE : Kalau pakai mesin, tentu harus investasi agak besar, tapi biaya tenaga kerja bisa dihemat dalam jangka panjang. Selain itu juga bisa mengurangi ‘drama karyawan’. TOR : Masih ingat ‘makna suksesmu’ kah? TEE : Masih Mas.. TOR : Apa itu? TEE : Menjadi jembatan rejeki bagi banyak orang. TOR : Nah, udah tahu jawabannya kan?! TEE : Tapi kalau aku pakai mesin, untungnya bisa lebih gede dan lebih besar kapasitas produksinya. Alhasil aku bisa sedekah lebih banyak. TOR : Emang saat kamu mendidik karyawanmu dari nol hingga mandiri, itu bukan sedekah? Bahkan sedekahmu lebih dari sekadar uang, tapi ilmu yang bermanfaat. Sehingga mereka yang tadinya penerima zakat, menjadi pembayar zakat. Kesabaranmu dalam menghadapi ‘drama’ mereka menjadi amalan tambahan bagimu. Bagus mana? TEE : Betul juga yaa.. Tapi… bagaimana dengan hal keuntungan yang ‘lebih besar’ saat menggunakan mesin? #mulaingeles TOR : Itulah bedanya serakah dan berkah. #PLAAKKK

Saat ‘agak miskin’, biasanya seorang calon pengusaha punya cita-cita yang mulia. Setelah ‘dilimpahkan’ rejeki, apalagi salah pilih idola/motivator di media sosial, bergeserlah makna sukses. Bukan lagi menjadi jembatan rejeki, tapi sukses ‘dinilai’ orang lain. Pengin ini dan itu, agar seperti dia dan menunjukkan ‘Siapa Aku’.

Setiap kali ada kebimbangan, tengok ulang ‘makna sukses’ kita, sebagai kompas untuk kembali. Agar tak sesat di jalan..!

“Yang penting kan hasilnya aku sedekahin 20%..” >> Ini namanya ‘syariah’ di tujuan, mengabaikan proses. Padahal yang namanya syariah itu selain niat (tujuan) yang benar, juga menjaga kebenaran di setiap prosesnya.

Jika berbicara keberkahan di proses, maka check listnya sebagai berikut:

This post is for subscribers only

Sign up now to read the post and get access to the full library of posts for subscribers only.

Sign up now Already have an account? Sign in