Tahukah Anda?

40% bisnis bangkrut di tahun ke-2.
80% bisnis bangkrut di tahun ke-5.
96% bisnis bangkrut di tahun ke-10.
Hanya 4% yang mampu bertahan.

Kitab Anti Bangkrut adalah buku kedua Jaya Setiabudi yang ditulis setelah The Power of Kepepet. Meski judulnya "Kitab Anti Bangkrut", buku ini sejatinya berisi fondasi-fondasi bisnis yang harus dimiliki oleh setiap pengusaha agar bisnisnya bisa bertahan lama.

Apa saja penyebab terbesar kebangkrutan?

1. Rugi Panjang

Banyak pebisnis yang idealis tapi tidak realistis. Sudah tau bisnisnya rugi, entah karena salah pemilihan lokasi, salah hitung budget, pasar kurang potensial, dan beragam penyebab lainnya, tapi masih dipertahankan.

Ingat: Bisnis adalah kendaraan untuk mencapai tujuan. Kalau kendaraannya mogok, jangalah sentimental. Ganti donk...

Di buku Buka Langsung Laris, kita sudah belajar tentang bisnis 'Sapi Perah'. Boleh saja idealis, asal sudah punya kas cadangan besar dari 'Sapi Perah' yang bisa menghidupi bisnis Anda.

2. Laba Semu

Kelihatannya untung, tapi kenapa nggak ada duitnya ya? Siapa yang sering menghadapi situasi seperti ini? Nggak papa, itu wajar kok dalam berbisnis. Bukan salah atau benar, tapi beda pembacaan laporan keuangannya. Yang satu dilihat dari laporan laba rugi, satunya dari laporan arus kas.

Ingat, untung di laporan laba rugi, belum tentu bebas dari bangkrut! Karena yang paling utama adalah KAS. Bisa jadi kita untung, tapi uang kas nya masih ada di pihak lain. Jadinya tetep nggak bisa kulakan juga. Itulah yang disebut dengan Laba Semu.

Margin bukan segalanya, cash lebih utama. Karena cash adalah darah dalam bisnis Anda.

Dalam hal ini, sangat penting untuk kita memahami laporan keuangan dan negosiasi, baik ke supplier ataupun pembeli.

3. Faktor orang lain

Bisa jadi karena ketipu karyawan, ketipu suppiler, atau ketipu pelanggan baru yang minta barangnya di muka. Itulah kenapa dalam bab ini, penting bagi kita untuk merekrut karyawan yang bagus dan tepat serta mengelola kepercayaan kepada orang lain. Bukan berarti harus suuzon, tapi mempersiapkan diri supaya tidak kehilangan.

Tidak mungkin jika kita tidak memercayai orang, tapi janganlah percaya 100% kecuali kita siap kehilangan.

4. Tak terduga

Penyakit pengusaha pemula adalah terlalu agresif dalam mengembangkan bisnisnya, hingga tak memiliki tabungan. Tiap sen keuntungan dijadikan penambahan modal atau ekspansi ke usaha lainnya.

Tentu saja itu lebih baik daripada foya-foyakan. Itu juga tidak salah, karena memang seperti itu polanya. Tapi persoalannya,

dari mana lagi dapat tambahan modal kalau tak punya uang simpanan?

5. Teknisi Karatan

Ada 3 lelemen bisnis dalam diri kita: Teknisi, Manajer, Entrepreneur.
a. Teknisi, "hidup dimasa sekarang" seperti koki di rumah makan, montir di bengkel.
b. Manajer, "hidup di masa lalu", menganalisi data-data atau laporan, guna melakukan efisiensi dan menyelsaikan masalah.
c. Entrepreneur, "hidup di masa depan", melihat dan mencari peluang, merencakan, berkreasim inovasi, pemimpi!

Banyak usaha bangkrut karena pemiliknya tidak bisa mendelegasikan tugas dan fokus menjadi teknisi saja alias "Teknisi Karatan"!. Padahal seharusnya kita bisa naik level sampai ke Entrepreneur.

6. Diri Sendiri


Misal, menyatukan uang perusahaan dengan kepentingan pribadi, baik sengaja ataupun tidak sengaja. Pola hidup glamor bak selebritas padahal untung bisnis masih belum seberapa. Menyicil melebihi pamasukan. Nggak tega saat keluarga atau kerabat membutuhkan uang. Peggunan kartu kredit melebihi kapastitas. Ingat,

Gengsi tak membuatmu kaya, justru membuatmu merana...

7.  Komplikasi

Bangkrut itu ibarat tersandung, jatuh, tertimpa tangga, tertabrak becak, dikencingi tokek lagi, apes ples pesing... Bukan sekadar bercanda lho, tapi itu fakta jika suatu kesalahan tak terdeteksi atau diacuhkan terus-menerus. Ibarat punya penyakit, bukannya diobati, tapi memilih membeli obat pengurang atau penghilang rasa nyeri.

Obat penghilang rasa ini bukan menyembuhkan ke akarnya, tapi justru menutupi keberadaan masalah itu sendiri. Itulah yang sering terjadi.

Di antara 7 poin tersebut, adakah yang pernah alami? Di buku Kitab Anti Bangkrut, kita belajar bagaimana cara mengantisipasi 7 poin tersebut dengan cara-cara yang praktis dan mudah dipahami.

Kelebihan Buku Kitab Anti Bangkrut

  • Ringan dibaca
  • Berisi ilmu praktis yang telah teruji
  • Sarat dengan solusi, bukan sekedar teori
  • Bahasa vibrasinya akan menyuntikkn energi pada Anda.

Di awal buku, Mas J memberi kutipan berikut ini.

Tak Masuk Akal

Menjadi pengusaha adalah pilihanmu,
jangan sesalkan itu.

Bangkrut adalah konsekuensimu,
setimbang dengan kayamu.

Menghindari bangkrut ada ilmunya,
bangkit dari bangkrut juga ada ilmunya.

Bukannya tak masuk akal,
tapi akalnya yang belum masuk.


Share this post